keluarga papa manado nasrani, mama muslim jawa madura, sekarang belajar bersama anak-anak dayak-tionghoa. selamat pagi matahari tunggal ika! (:
24 februari 2013 09:06
Don't make friends with bad persons, who are negatives or hurt you pyshically and mentally; it makes sense. Don't marry them, it makes sense. Don't make friends or don't have married with someone who are not in your race, your tribe, who don't have faith in the same religion as yours; it doesn't make sense. At all. You are not Hitler. And we've passed millenium, people. All we need is love. Peace, MG.
Showing posts with label pengajar muda. Show all posts
Showing posts with label pengajar muda. Show all posts
Monday, February 25, 2013
Sunday, February 10, 2013
Sepenggal Kompromi dan Sebuah Tanya Pada Papa Mama
Bagaimana kabar papa dan mama? Masih seperti November dan
Desember lalu, hujan gemar berkunjung ke tempatku. Tapi tidak seperti kemarin
saat Penai sedang musim durian. Dulu, tiap hari gantian satu per satu murid
membawakanku sebuah. Sehari bisa dapat delapan buah pemberian. Bosan dimakan
begitu saja, aku diajari Bu Ribka cara membuat tempoyak. Awalnya lidahku
mengernyit, lama kelamaan suka karena biasa. Sudah papa dan mama coba, kan? Yang
ketika cuti kemarin kubawakan setoples. Benda itu kusembunyikan di tas punggung
agar tak ketahuan petugas bandara. Kabarnya pesawat bermusuhan dengan gas yang
timbul dari proses fermentasi durian dan garam tersebut.
Pokoknya, pa, ma, di desa ini aku tak pernah kelaparan.
Memang, soal makanan aku boleh gembira. Mengenai tantanganku di sini, selain
infrastruktur yang tidak mendukung kondisi geografis, apalah lagi kalau tentang
pendidikan. Aku ingat teman dekatku sering mengajak untuk berkompromi. Di sini
aku mengalami kompromi yang sebenar-benarnya (cenderung pemaksaan, mungkin?).
Ingatkah ma, bahwa aku benci apa yang para badan pengurus suatu sistem sebut sebagai
mark up, apa yang para guru sekolah
dasarku dulu bilang katrol nilai? Aku tak mau menghakimi diriku sebagai paling
benar, aku hanya mau berusaha segan melakukan hal-hal seperti itu, terutama
saat mengemban kehormatan sebagai guru. Ternyata aku dipaksa oleh keadaan untuk
melakukannya. Sampai hati bila aku tak mengusahakan agar anak-anakku ikut ujian
kelulusan SD, hanya karena sebutir atau lebih nilai pelajaran pada rapornya
tidak tuntas. Aku tak menolak, namun juga tak menerima mentah-mentah gagasan
sial tersebut.
“Ceritakan dalam selembar kertas, apa yang akan kalian
lakukan dalam lima tahun ke depan. Terserah kapan kalian antarkan tugas itu ke
ibu. Nanti baru ibu beri rapor kalian,” ujarku pada serombongan murid yang
kubantu agar nilainya memenuhi syarat ketuntasan. Hari-hari berikutnya,
bergantian mereka menyerahkan cerita tentang apa rencana mereka lima tahun ke
depan. Ada yang memberiku cerita detil, ada yang hanya gambaran singkat.
Sebuah wacana karya Fetronila membuatku termenung. Tulisnya, “... Ibu sapengen sekali seperti ibu bisa membahagiakan ke dua orang tua nya...”
Adakah kebenaran dalam tulisan itu , pa, ma, walau hanya secuil, bahwa aku bisa
membahagiakan papa dan mama? Ingatku, sering aku melakukan paksaan agar inginku
dituruti. Tingkahku sama saja dengan keadaan di sini. Bukan kompromi namanya
kalau ada pihak yang merasa ‘dipaksa’. Ketika itu, pastilah aku membuat papa mama
tidak bahagia. Saat-saat itu aku tidak memedulikan kekuatan kompromi, aku
mengacuhkan pembicaraan dari hati ke hati untuk mencari jalan tengah terbaik. Maaf
pasti tidak cukup tanpa tindakan. Tenanglah, pa, ma, sebagai pengajar malah akulah
yang banyak belajar dari kehidupan yang belum sampai setahun kujalani di sini.
Bolehkah aku minta doa papa dan mama? Semoga hidup memberikan
pilihan-pilihan kepada anak-anakku yang dapat mereka kompromikan, sehingga
mereka tidak dipaksa meniti jalan buntu untuk melanjutkan pendidikan dan
membahagiakan orang tua. Semoga.
Note:
Bu Ribka adalah guru honor yang menemani hari-hariku selama enam bulan ke belakang. Sekarang dia telah bekerja sebagai tutor Rumah Pintar di barak perkebunan sawit sebuah perusahaan multinasional. Aku memperoleh banyak pelajaran padanya.
Thursday, September 20, 2012
Pasal 34 Ayat 1
Dingin ini menusuk
Sebab laku pejabat busuk
Merasuki sistem hingga ke rusuk
Demi pundi-pundi menggemuk
Cabiklah! Gagas mereka yang lapar
Anjur mereka yang kerap bertanya kabar
Tentang fakir miskin dan anak terlantar
Siapa yang memelihara, wahai kita yang gentar?
“Oleh negara!” seru yang berperut begah
Sambil meretas dari bilik yang megah
Yang merajuk, meludah
sampai tumpah
Katanya kita tak ikut salah
Benarkah?
Wednesday, August 15, 2012
Dua Bulan Penuh Kejutan
Telah kurang lebih dua bulan saya meraba kehidupan di Desa Penai, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Eh, maaf, maksud saya, Kota Penai. Daerah yang masih akan saya tinggali hingga sepuluh bulan ke depan, menurut saya sudah kehilangan identitasnya sebagai sebuah desa. Namun fisiknya masih tanggung untuk disebut sebagai kota. Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan, sebuah daerah sepantasnya disebut kota jika sudah memiliki jaringan listrik dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar bidang pertanian. Memang, di Penai dua poin itu belum bisa dicoret dari daftar karakteristik daerah; namun dari tingkat perekonomian penduduk, saya rasa bolehlah predikat desa digeser dari nama Penai.
Kalau akun twitter TMC Polda Metro Jaya suka menyebut “anak-anak tanggung” sebagai subtitusi kata “anak baru gede”, barangkali Desa Penai juga bisa disebut sebagai Kota “Tanggung” Penai. Terkejut? Sudah tentu. Semenjak masih didampingi Pengajar Muda sebelumnya di desa ini, sudah beragam kejutan yang saya terima dari bekas pulau bergerak tersebut.
Kejutan Pertama
Tingkat perekonomian penduduk desa cukup tinggi. Orang terkaya di Penai punya Ford Ranger, speed boat (di sini disebut speed terbang), baju bermerek mulai dari jeans Wrangler dan kaos Poshboy. Bukan maksud mengukur kesuksesan dari merek barang yang dimiliki, tapi tidak kusangka akan menemukan hal-hal semacam itu di Penai.
Mata pencaharian utama penduduk desa ini adalah tambang emas, menoreh getah karet, dan berdagang. Saya belum tahu pasti berapa gram emas yang bisa dihasilkan dalam sehari. Yang pasti, dari satu kilogram getah karet yang bisa ditoreh oleh penduduk, mereka mendapatkan upah minimal Rp 9.000,00 dan maksimal Rp 21.000,00. Harga karet turun jika sedang kemarau. Jika musim hujan, harganya akan naik. Sementara harga getah karet biasanya, taruhlah Rp 10.000,00 hingga Rp 11.000,00. Ketika libur kenaikan kelas, beberapa orang tua sering memberdayakan anaknya untuk turut menoreh. Dari hasil kerja seorang ibu dan seorang anak, tiap hari mereka dapat menoreh 10 kg getah karet.
Rumah di Penai banyak yang sudah terbuat dari bata dan beton. Murid saya bahkan ada yang memiliki Blackberry. Beberapa warga Penai memiliki rumah dan usaha rumah kos di Sintang, kabupaten setelah Kapus Hulu. Ah, tapi bukannya jika tingkat perekonomian suatu daerah tinggi, bukankah kita harus bersyukur?
Kejutan Ke-dua
Peristiwa ini, mungkin salah satu yang membuat saya kerap tertawa kecil jika mengingatnya. Kamis, 20 Juli 2012, ketika sedang menikmati es teh manis saat waktu istirahat kedua, tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya masuk ke kantor guru. “Bu Retti mana?” tanya laki-laki yang ternyata adalah Paulus, Kepala Desa Penai. “Ya, ada apa pak?” ujar saya sambil menghampiri Pak Kades, sama herannya dengan kepala sekolah dan para guru dalam ruangan tersebut. “Begini, saya mau menjemput Bu Retti ke Miau Merah..”
Glek. Tenggorokan saya bagai tersekat. Hari itu adalah hari pembukaan KRK (Kebangun Rohani Katolik) di Desa Miau Merah. Sudah dari minggu lalu Pak Kades dan segenap umat Katolik mengajak saya untuk ikut. “Tim dari Jakarta yang bikin acara lho, bu,” iming-iming mereka. Acara tersebut berlangsung pada minggu pertama sekolah. Kalaupun saya memang tertarik mengikuti acara tersebut, tidak sepantasnya saya langsung minta izin padahal baru minggu pertama mengajar. Terlepas dari pencarian spiritual yang sedang saya jalani dan betapa saya berusaha tidak terlibat dalam ranah keagamaan saat mengemban tugas sebagai pengajar muda, ternyata takdir sudah menorehkan garisnya sendiri. “Kita cuma ikut misa pembukaan bu, nanti malam pulang lagi ke Penai. Saya dan Pak Hamid juga tidak daftar ikut KRK..” (Pak Hamid adalah seorang penduduk yang cukup disegani di Penai, almarhum ayahnya adalah temanggung)
Yang terjadi, terjadilah. Dengan Pak Kades dan beberapa warga, saya turun ke Miau Merah. Setelah menempuh perjalanan air dengan speed boat dan perjalanan darat menggunakan mobil selama total sekitar tiga jam, sampailah kami di Miau Merah. Sampai di gereja, ternyata warga Penai yang mendapat mandat untuk mengisi paduan suara. Jadilah saya bergabung dengan warga lain untuk berlatih nyanyian yang akan dilagukan pada misa pembukaan di malam harinya.
Ternyata KRK tersebut cukup unik karena acara pembukaannya diwarnai sentuhan adat Dayak. Tidak ketinggalan, tuaknya. Yah, bisa dibilang untung juga Pak Kades berinisiatif untuk menjemput saya. Terima kasih ya Pak!

Kejutan Ke-tiga
Minggu, 29 Juli 2012, ada dua pasangan yang pernikahannya diberkati di gereja Katolik. Seminggu sebelum acara berlangsung, entah dapat ide darimana, Pak Hamid mendaulat saya untuk menyanyi duet dengan Fila, seorang murid SMP. Entah saya dapat ide darimana juga, saya menyanggupi amanat tersebut. Ternyata lagu yang dimaksud adalah “Di Doa Ibuku”, dan akan dinyanyikan saat para mempelai sungkem (minta doa restu) pada orang tua atau wali masing-masing. Mengingat talenta sebagai vokalis tidak dianugerahkan Yang Di Atas pada saya, tiap latihan hingga hari H tiba, saya hanya berharap semoga prosesi yang seharusnya kusyuk dan mengharukan tersebut tidak rusak karena suara saya..
Kejutan Ke-empat
Jumat, 3 Agustus 2012. Sore hari di lapangan sekolah, saya sedang membuat foto profil para murid yang mengikuti lomba karya tulis untuk seleksi delegasi Konferensi Anak Indonesia 2012. Tiba-tiba datanglah murid saya, kelas 6, bernama Suhendra Kelvin. Dia datang mengendarai sepeda dan tangan kirinya memegang sekantung es jeruk.
Iseng saya bertanya, “Apa itu?” walau itu pertanyaan retoris.
Suhendra balas bertanya, “Mau, bu?”
“Mau,” jawab saya, masih iseng.
Lalu saya melanjutkan memotret anak-anak. Beberapa menit kemudian datanglah Suhendra dengan sekantung es jeruk lain. Dia serahkan es jeruk baru itu ke tangan saya.
Saat saya tanya berapa harganya, dia berujar, “Gak tahu, bu!” sambil berlalu mengayuh sepedanya. Sekantung es jeruk dari seorang murid, tidak terpikir hal lain untuk diharapkan di sore hari yang terik tersebut.
Saya yakin masih banyak kejutan lain dari Penai, dan anak-anak saya, bukan begitu? (:
Tuesday, August 14, 2012
Sebelum Fajar di Kapuas Hulu
Riak air menyeruak
Anak-anak sungai berarak
Tiba aku, kamu, kita
Digiring terik khatulistiwa
Siapakah kita yang menjelang petang?
Pantaskah kita jadi jembatan di atas jurang?
Kita masih rabun
Walau sepuluh tali telah tersimpul
Saling menyusur hingga hulu
Walau diombang-ambing dalam perahu
Siapakah kita yang merindu laku?
Pantaskah kita menjelma bapak, ibu guru?
Asa kita bara bagi mereka
Masih, di sana
Riak air menyeruak
Dan anak-anak sungai berarak
Jatiluhur, 24 Mei 2012
Teruntuk seluruh Pengajar muda. Baik yang telah tunai
bertuga, maupun yang sedang berjuang. Terutama bagi kalian, keluarga Kapuas
Hulu. Angkat kepalamu, kawan! Saling berpegang pundak! Demi lunasnya janji
kemerdekaan, demi anak-anak! (:
Monday, July 2, 2012
Secuil perintis
Tadinya ingin membuat video tentang Desa Penai, namun ternyata.. Lebih banyak foto tentang pendahulu saya. Berikut secuil tentang Abdul Aziz Jaziri, Pengajar Muda Angkatan II Desa Penai, Kabupaten Kapuas Hulu. Dari yang secuil, semoga semangat mendidik oleh para yang terdidik tidak mengerdil (:
Friday, June 29, 2012
Pulang, untuk Setahun dan Selamanya
Selasa, 19 Juni 2012. Penanda waktu di layar ponselnya menunjukkan
pukul 11:47. Sambil menyandarkan diri pada bangku di bus Damri jurusan
Putussibau – Sintang, dia menolehkan kepala pada kawan seperjuangan yang masih
berada dalam jarak pandangnya. Abdul Aziz Jaziri, pengajar muda angkatan II,
yang sekarang telah habis masa pengabdiannya di SDN 05 PB Penai. Mulai tahun
ajaran baru, tanggung jawab pada pundak Aziz dialihkan pada dia, penggantinya.
Di belakang Aziz duduklah Didi Suryana, kawannya yang juga baru meyelesaikan
pelatihan intensif pengajar muda angkatan IV. Yang sedang tidur persis di
sebelahnya adalah Mirah Mahaswari, juga pengajar muda angkatan IV, yang akan
mengabdi di kecamatan sebelah.
Berusaha tidak terlalu memikirkan apa yang menantinya di desa, dia
memasang headset pada ponsel,
menyalakan aplikasi pemutar musik, memilih opsi shuffle. Satu per satu
isi playlist-nya mengalun hingga sampailah pada sebuah lagu yang
membuatnya tersentak.
“Sementara
Lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku
Hanya ada kau dan aku”
Sadarlah dia. Mulai saat itu, hanya akan dia dan dirinya, dia dan
hatinya, dia dan desanya, dia dan (calon) anak-anaknya. Sebaris puisi Rendra
terngiang dalam kepalanya.
“Aku pergi dan
kakiku adalah hatiku
Sekali pergi
menolak rindu”
Pada kampung halaman, kerabat maupun sahabat. Mulai saat itu hingga
setahun mendatang. Setahun hanyalah sementara, bukan waktu yang kekal, mungkin
juga tidak cukup untuk memberi pendidikan yang layak sebagai bekal. Tapi dia
sudah berikrar, saat pertama sampai di Putussibau, Minggu, 17 Juni 2012,
disaksikan aliran sungai terpanjang di negeri ini.
Sungai Kapuas
Menceburkan diri
padanya
minum dari arusnya
hari ini untuk
setahun dan selamanya
Ini bukan tentang dia. Yang utama bukan kesejatian dirinya, tapi
kemajuan desa dan anak-anaknya. Ilmu pedadogisnya baru seumur jagung,
wawasannya juga baru selebar punggung. Namun dia percaya, dia tidak sendiri.
Mimpinya adalah mimpi jutaan anak negeri. Namun dia percaya, tindakan nyata lah
yang membuat asa menjadi berarti.
Dari kawan-kawannya, dia mengalihkan pandangan ke jendela. Bus melaju
melalui jalan beraspal yang naik turun, dengan hutan di kanan kirinya. Langit
biru mengiringi perjalanannya ke Penai. Setelah kurang lebih delapan jam
menempuh jalur darat dan satu setengah jam melalui jalur air, akhirnya dia
pulang. Untuk setahun dan selamanya.
Terima kasih kepada Float yang mencipta Sementara dan
Rendra yang menulis Lagu Angin (:
Monday, June 25, 2012
Kembali
Lama sudah tidak
saya goreskan curahan maupun pemikiran pada halaman ini. Dosa bagi penulis,
katanya. Kepada diri saya sendiri dan kepada halaman yang kuacuhkan selama
hampir lima bulan, pengakuan dosa dan maaf mungkin tidak cukup. Maka biarkan
saya memulai lagi, seperti saat ini saya sedang menata kembali hidup yang
sempat tidak saya hidupi.
Pulang
Putussibau,
17 Juni 2012
Mess
Pemda
Saat ini saya sedang
berada di kamar 09, Mess Pemda, Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat. Bersama saya adalah Cantika Marlangen, yang sedang beristirahat sambil
sejenak memantau perkembangan dunia luar dari layar telepon genggamnya. Saya dan
Tika, seperti itu Cantika biasa dipanggil, serta delapan orang Pengajar Muda
angkatan 4 lainnya terdampar di bumi uncak Kapuas ini sejak kemarin. Sekitar
pukul 8 pagi, 16 Juni 2012 kami tiba di Bandara Supadio, Pontianak. Setelah
sebelumnya beristirahat di rumah Bupati Muhammad Nasir, kami diajak oleh tiga
orang Pengajar Muda (PM) 2 mengunjungi Megamall. Cukup unik melihat para PM 2
antusias melihat mall dan mengajak kami makan junk food di sebuah kedai pizza.
"Kira-kira enam bulan yang lalu kami terakhir makan yang seperti
ini," kata Belgis, seorang PM 2 Kapuas Hulu. Setelah menikmati
makanan dengan khusyuk, karena tak tahu entah kapan kami akan menjumpai rasa
dan bentuk seperti itu lagi, kami pergi ke Putussibau, ibukota kabupaten Kapuas
Hulu.
Hidup
bersama orang-orang gila
April
- Juni 2012
Jatiluhur,
Purwakarta
Training intensif PM
4 dibuka pada 23 April 2012. Saat itu saya belum menyadari betapa banyak
wawasan dan cara pandang baru yang akan saya dapat. Ruang yang terbatas dalam
beberapa ribu karakter tidak akan cukup untuk menulis ulang tentang siapa, apa,
mengapa, maupun bagaimana kehidupan yang saya jalani selama dua bulan
pelatihan.
Yang pasti, selama
dua bulan itu saya tinggal serta mengalami suka duka bersama ORANG-ORANG GILA.
Teman-teman (yang sangat itu masih menjadi calon) PM 4 adalah orang-orang
tergila yang pernah saya kenal. Para fasilitator, narasumber, departemen
operasi serta seluruh manusia yang terlibat dalam Gerakan Indonesia Mengajar
(apalagi perintisnya!), adalah ORANG-ORANG GILA. Melalui ORANG-ORANG GILA
tersebut, Sang Hyang Widhi mengembangkan kapasitas diri saya. Hidup bersama
orang-orang gila ini juga menempa idealisme sampai egoisme saya, agar apa yang
saya peroleh tidak digunakan hanya sebagai 'pengakuan' namun juga bermanfaat
bagi sesama. Such a inspirational experience! :D
Resign
dari Tempo
Maret
2012
Fatmawati,
Jakarta Selatan
Masih jelas dalam
ingatan saya, liputan terakhir yang saya kerjakan adalah tewasnya seorang
kameraman TVRI, akibat ditembak orang tak dikenal. Setelah menunggu hasil
otopsi hingga kira-kira pukul 9 malam di ruang jenazah RS Fatmawati, saya
segera mengetik berita cepat di telepon genggam. Baterai menipis, sementara
saya masih hutang berita yang diliput pada sore hari itu. Setelah terpaksa
menolak ajakan kawan-kawan media lain untuk makan malam bersama, saya bergegas
menuju 7 Eleven terdekat. Dengan memanfaatkan koneksi internet, saya mengetik
dan mengirim berita melalui laptop. Sambil mengetik, saya berkirim pesan
singkat dengan redaktur piket pada malam Senin itu. Setelah tugas saya selesai
sekitar pukul 11 malam, sayamenikmati minuman sambil mengistirahatkan otot-otot
yang tegang. Tiba-tiba sebuah pesan dari redaktur datang. Sempat saya melengos
dalam hati, "apa lagi ini, bukannya berita sudah saya kirim dan katanya
OK?". Maklum, hari itu cukup melelahkan. Setelah liputan sore hari di
kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, saya harus mengejar berita ke kawasan
Jakarta Selatan. Ternyata pesan singkat itu berbunyi,
Terima kasih ya,
Retti jurnalis :)
Begitulah redaktur
saya. Ketika saya pamit pada rapat mingguan, dia mengatakan kepada saya,
"Retti, saat menjadi guru kamu hanya mengajar dan memberi informasi pada
30 sampai paling banyak 40 orang murid dalam satu kelas. Sementara jika kamu
menjadi jurnalis, kamu dapat memberi informasi pada sekian juta
pembacamu."
Pendapatnya tidak
salah, tapi saya tidak harus setuju dengan hal itu bukan? :p
Setelah dinyatakan
diterima sebagai calon PM 4, saya makin sering membaca blog para PM. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa mereka
bukan hanya mengajar, namun juga membawa perubahan pada daerah penempatan
mereka. Dampak kehadiran PM di daerah-daerah tersebut cukup positif, saya rasa.
Sesuai dengan pernyataan Anies Baswedan, pendiri Gerakan Indonesia Mengajar,
bahwa mendidik adalah tanggung jawab orang terdidik. Bukan guru atau dosen saja
(:
Tiga bulan menjadi
calon reporter Tempo desk kriminal dan perkotaan, (makin) membuka wawasan saya
tentang kerasnya ibukota. (Makin) membuka mata saya begitu banyak PR yang harus
diselesaikan di ibukota, bersama, oleh pemerintah dan penduduknya. (Makin) membuka
mata saya tentang daerah abu-abu hasil kesepakatan bersama. Tanpa ditempatkan
di desk kriminal dan perkotaan, mungkin saya tidak akan pernah bersentuhan
dengan bandar narkoba, penadah barang curian, ketua RT RW, lurah, camat,
gubernur, kapolres, kanit reskrim, intel, penduduk tanah merah, penduduk
bantaran sungai, dan sebagainya. Masih banyak cerita yang ingin saya bagikan,
mungkin pada laman baru. Terima kasih Tempo, meski hanya tiga bulan saya
mencicipi bekerja di dalammu, telah banyak yang saya peroleh. Termasuk
kesejatian diri. Sekarang saya pulang, ke tempat anak-anakku berada, bumi uncak
Kapuas. Sampai bertemu lagi, ibukota (:
Subscribe to:
Posts (Atom)


