Don't make friends with bad persons, who are negatives or hurt you pyshically and mentally; it makes sense. Don't marry them, it makes sense. Don't make friends or don't have married with someone who are not in your race, your tribe, who don't have faith in the same religion as yours; it doesn't make sense. At all. You are not Hitler. And we've passed millenium, people. All we need is love. Peace, MG.

Monday, August 8, 2011

A Reminder, A Dreamcatcher

Kita manusia, punya mimpi. Ada yang tampak mustahil didapat tapi ternyata semesta mendukung terjadinya hal itu, ada juga yang kita kira bisa kita dapat namun ternyata tidak bisa. Asal sudah usaha, saya kira orang tidak akan menyesal. Pasti ada pembelajaran di balik semua usaha yang telah dilakukan (ditemani darah, air mata, dan keringat).

Kira-kira setahun lalu, tepatnya 20 Juni 2010, saya mengunggah sebuah foto di facebook. Agak norak memang. Foto sebuah surat dari School of Visual Arts (SVA), New York. Bukan surat bahwa saya diterima di sana, bukan pula surat panggilan wawancara universitas atau penerimaan beasiswa. Hanya sebuah surat yang menyampaikan rasa terima kasih mereka karena saya tertarik pada program graduate di sana, dan bahwa katalog yang saya pesan secara online akan sampai pada bulan Agustus. Tapi sungguh, saya tidak mengira bahwa mereka akan mengirim surat itu ke alamat saya di Bogor, Indonesia, lalu mengirim katalog pada bulan Agustus. Gratis.


Saya terinspirasi dari Yuko Shimizu, seorang ilustrator internasional, yang menyelesaikan kuliah desainnya di SVA. Apalagi SVA memiliki program master dalam fotografi, sesuatu yang saya sangat minati. One thing I passionate about. Sosok Yuko sendiri sangat berkesan bagi saya, tapi itu cerita lain. Intinya, Yuko adalah seorang Jepang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak menganggap seni sebagai sebuah jalan hidup. Selama 10 tahun ia bekerja sebagai akuntan, sukses, namun tidak bahagia. Akhirnya ia mengambil langkah ekstrem dengan meninggalkan pekerjaan dan kehidupannya yang sudah mapan, untuk kuliah lagi selama 4 tahun di SVA, New York. Mendalami ilustrasi, sesuatu yang ia minati. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Sebagai ilustrator, tentu Yuko bersaing dengan teman-temannya yang lebih muda dan telah memulai debut ilustrasinya lebih awal, namun Yuko bisa sukses karena ia mencintai dunia ilustrasi. Dan gigih.

Waktu berlalu dari setahun lalu dan saya yang pemimpi mulai beranjak realistis, mudah-mudahan tidak sampai pesimis. Ah ya sudahlah tidak apa-apa kalo gw gak bisa kuliah di sana, ah ya udahlah mungkin kerja di situ enak juga ya, ya udahlah gw sekarang apply beasiswa ke mana aja asal dapet, kalo peminatannya masih bisa gw ikutin ya gak apa-apa, ah ya udahlah ah ya udahlah.. Ya sudahlah.

8 Juli 2011, deadline gelombang kedua pengumpulan skripsi bagi angkatan saya. Dengan bantuan berbagai pihak yang kasat dan tak kasat mata, saya berhasil menyelesaikannya dalam waktu 1 bulan. Sebuah analisis semiotika karya fotografi Island of the Spirit oleh John Stanmeyer. Adalah seorang sahabat, Amalia Sekarjati yang berjanji kepada saya bahwa bila saya mengumpulkan skripsi pada deadline gelombang kedua, ia akan memberi saya notebook tua-tua sekolah. Warna biru, kesukaan saya. Begitulah 9 Juli 2011 kami bersua di Kineforum lalu bersantai di Bakoel Koffie Cikini. Ditemani Shirley Tamara, seorang sahabat juga.

Dan inilah penampakan muka notebook tersebut:

Tua-tua sekolah sendiri adalah proyek penggalangan dana beasiswa yang dirancang oleh Cecil Mariani, Felencia Hutabarat, dan Lisabona Rahman. Mereka bertiga adalah pekerja seni dan budaya yang peduli pada perkembangan dunia seni dan budaya Indonesia. Cecil, Ellen dan Lisa akan melanjutkan sekolah ke jenjang S-2. Mereka bertiga sudah diterima di 3 universitas yang prestisius di Belanda dan Amerika Serikat dan selama dua tahun terus mencoba berbagai kemungkinan mengumpulkan dana studi. Salah satu cara pengumpulan dananya adalah dengan menjual notebook yang desainnya simpel tapi menarik (beli ya! :D)

"Buka donk, Gor!", kata Sekar

Saya yang penasaran, membuka halaman pertama notebook kecil itu. Dan ternyata..


Ada tulisan Mbak Cecil Mariani di dalamnya, lengkap dengan tanda tangan.
SVA onward and beyond.

"AAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaa... Hahahahaaa...." Saya histeris kayak ABG lalu tertawa-tawa. Terus terang saya gak nyangka, jadi terkejut sekali. Kecup dan peluk beribu-ribu kali gak cukup buat Sekar! Terima kasih sabidut!
Pesan Sekar:


Saya senang. Lebih senang lagi karena malam itu saya dan Shirley juga bercerita macam-macam yang berkaitan dengan impian, halangan, kemungkinan. Sepulangnya Shirley, saya dan Sekar melanjutkan malam minggu di McD Cikini. Berbagi macam-macam, kebanyakan tentang pilihan hidup, mimpi, cinta Sekar pada film yang seperti dipaksakan (:p), akan jadi apa kita kelak? Masa depan tidak ada yang tahu. Namun yang pasti malam itu, saya diingatkan bahwa saya pernah punya mimpi yang tinggi. Begitupun Yuko Shimizu dulu dan Mbak Cecil Mariani sekarang. Harusnya saya malu kalau jadi pesimis. Kalau memang suatu saat nanti harus ekstrem untuk tujuan yang baik, seperti meninggalkan kemapanan semu untuk kemapanan lain yang diiringi kebahagiaan, atau berjualan notebook lalu mendedikasikan ilmu yang didapat pada bidang yang diminati; berapapun umur kita, kenapa tidak?

Terima kasih. Sudah diingatkan. Terima kasih.

4 comments:

  1. wah, baca yang ini menarik dan manis, Retti semangat terus ya, kalau usaha pasti ada jalan :)

    ReplyDelete