Don't make friends with bad persons, who are negatives or hurt you pyshically and mentally; it makes sense. Don't marry them, it makes sense. Don't make friends or don't have married with someone who are not in your race, your tribe, who don't have faith in the same religion as yours; it doesn't make sense. At all. You are not Hitler. And we've passed millenium, people. All we need is love. Peace, MG.

Tuesday, August 14, 2012

Sebelum Fajar di Kapuas Hulu


Riak air menyeruak
Anak-anak sungai berarak
Tiba aku, kamu, kita
Digiring terik khatulistiwa
Siapakah kita yang menjelang petang?
Pantaskah kita jadi jembatan di atas jurang?
Kita masih rabun
Walau sepuluh tali telah tersimpul
Saling menyusur hingga hulu
Walau diombang-ambing dalam perahu
Siapakah kita yang merindu laku?
Pantaskah kita menjelma bapak, ibu guru?
Asa kita bara bagi mereka
Masih, di sana
Riak air menyeruak
Dan anak-anak sungai berarak


Jatiluhur, 24 Mei 2012

Teruntuk seluruh Pengajar muda. Baik yang telah tunai bertuga, maupun yang sedang berjuang. Terutama bagi kalian, keluarga Kapuas Hulu. Angkat kepalamu, kawan! Saling berpegang pundak! Demi lunasnya janji kemerdekaan, demi anak-anak! (:

Monday, July 2, 2012

Secuil perintis



Tadinya ingin membuat video tentang Desa Penai, namun ternyata.. Lebih banyak foto tentang pendahulu saya. Berikut secuil tentang Abdul Aziz Jaziri, Pengajar Muda Angkatan II Desa Penai, Kabupaten Kapuas Hulu. Dari yang secuil, semoga semangat mendidik oleh para yang terdidik tidak mengerdil (:

Friday, June 29, 2012

Pulang, untuk Setahun dan Selamanya



Selasa, 19 Juni 2012. Penanda waktu di layar ponselnya menunjukkan pukul 11:47. Sambil menyandarkan diri pada bangku di bus Damri jurusan Putussibau – Sintang, dia menolehkan kepala pada kawan seperjuangan yang masih berada dalam jarak pandangnya. Abdul Aziz Jaziri, pengajar muda angkatan II, yang sekarang telah habis masa pengabdiannya di SDN 05 PB Penai. Mulai tahun ajaran baru, tanggung jawab pada pundak Aziz dialihkan pada dia, penggantinya. Di belakang Aziz duduklah Didi Suryana, kawannya yang juga baru meyelesaikan pelatihan intensif pengajar muda angkatan IV. Yang sedang tidur persis di sebelahnya adalah Mirah Mahaswari, juga pengajar muda angkatan IV, yang akan mengabdi di kecamatan sebelah.

Berusaha tidak terlalu memikirkan apa yang menantinya di desa, dia memasang headset pada ponsel, menyalakan aplikasi pemutar musik, memilih opsi shuffle. Satu per satu isi playlist-nya mengalun hingga sampailah pada sebuah lagu yang membuatnya tersentak.

“Sementara
Lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku
Hanya ada kau dan aku”

Sadarlah dia. Mulai saat itu, hanya akan dia dan dirinya, dia dan hatinya, dia dan desanya, dia dan (calon) anak-anaknya. Sebaris puisi Rendra terngiang dalam kepalanya.

“Aku pergi dan kakiku adalah hatiku
Sekali pergi menolak rindu”

Pada kampung halaman, kerabat maupun sahabat. Mulai saat itu hingga setahun mendatang. Setahun hanyalah sementara, bukan waktu yang kekal, mungkin juga tidak cukup untuk memberi pendidikan yang layak sebagai bekal. Tapi dia sudah berikrar, saat pertama sampai di Putussibau, Minggu, 17 Juni 2012, disaksikan aliran sungai terpanjang di negeri ini.

Sungai Kapuas
Menceburkan diri padanya
minum dari arusnya
hari ini untuk setahun dan selamanya

Ini bukan tentang dia. Yang utama bukan kesejatian dirinya, tapi kemajuan desa dan anak-anaknya. Ilmu pedadogisnya baru seumur jagung, wawasannya juga baru selebar punggung. Namun dia percaya, dia tidak sendiri. Mimpinya adalah mimpi jutaan anak negeri. Namun dia percaya, tindakan nyata lah yang membuat asa menjadi berarti.

Dari kawan-kawannya, dia mengalihkan pandangan ke jendela. Bus melaju melalui jalan beraspal yang naik turun, dengan hutan di kanan kirinya. Langit biru mengiringi perjalanannya ke Penai. Setelah kurang lebih delapan jam menempuh jalur darat dan satu setengah jam melalui jalur air, akhirnya dia pulang. Untuk setahun dan selamanya.

Terima kasih kepada Float yang mencipta Sementara dan Rendra yang menulis Lagu Angin (:


Monday, June 25, 2012

Kembali


Lama sudah tidak saya goreskan curahan maupun pemikiran pada halaman ini. Dosa bagi penulis, katanya. Kepada diri saya sendiri dan kepada halaman yang kuacuhkan selama hampir lima bulan, pengakuan dosa dan maaf mungkin tidak cukup. Maka biarkan saya memulai lagi, seperti saat ini saya sedang menata kembali hidup yang sempat tidak  saya hidupi.

Pulang
Putussibau, 17 Juni 2012
Mess Pemda
Saat ini saya sedang berada di kamar 09, Mess Pemda, Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Bersama saya adalah Cantika Marlangen, yang sedang beristirahat sambil sejenak memantau perkembangan dunia luar dari layar telepon genggamnya. Saya dan Tika, seperti itu Cantika biasa dipanggil, serta delapan orang Pengajar Muda angkatan 4 lainnya terdampar di bumi uncak Kapuas ini sejak kemarin. Sekitar pukul 8 pagi, 16 Juni 2012 kami tiba di Bandara Supadio, Pontianak. Setelah sebelumnya beristirahat di rumah Bupati Muhammad Nasir, kami diajak oleh tiga orang Pengajar Muda (PM) 2 mengunjungi Megamall. Cukup unik melihat para PM 2 antusias melihat mall dan mengajak kami makan junk food di sebuah kedai pizza. "Kira-kira enam bulan yang lalu kami terakhir makan yang seperti ini," kata Belgis, seorang PM 2 Kapuas Hulu. Setelah menikmati makanan dengan khusyuk, karena tak tahu entah kapan kami akan menjumpai rasa dan bentuk seperti itu lagi, kami pergi ke Putussibau, ibukota kabupaten Kapuas Hulu.

Hidup bersama orang-orang gila
April - Juni 2012
Jatiluhur, Purwakarta
Training intensif PM 4 dibuka pada 23 April 2012. Saat itu saya belum menyadari betapa banyak wawasan dan cara pandang baru yang akan saya dapat. Ruang yang terbatas dalam beberapa ribu karakter tidak akan cukup untuk menulis ulang tentang siapa, apa, mengapa, maupun bagaimana kehidupan yang saya jalani selama dua bulan pelatihan.
Yang pasti, selama dua bulan itu saya tinggal serta mengalami suka duka bersama ORANG-ORANG GILA. Teman-teman (yang sangat itu masih menjadi calon) PM 4 adalah orang-orang tergila yang pernah saya kenal. Para fasilitator, narasumber, departemen operasi serta seluruh manusia yang terlibat dalam Gerakan Indonesia Mengajar (apalagi perintisnya!), adalah ORANG-ORANG GILA. Melalui ORANG-ORANG GILA tersebut, Sang Hyang Widhi mengembangkan kapasitas diri saya. Hidup bersama orang-orang gila ini juga menempa idealisme sampai egoisme saya, agar apa yang saya peroleh tidak digunakan hanya sebagai 'pengakuan' namun juga bermanfaat bagi sesama. Such a inspirational experience! :D

Resign dari Tempo
Maret 2012
Fatmawati, Jakarta Selatan
Masih jelas dalam ingatan saya, liputan terakhir yang saya kerjakan adalah tewasnya seorang kameraman TVRI, akibat ditembak orang tak dikenal. Setelah menunggu hasil otopsi hingga kira-kira pukul 9 malam di ruang jenazah RS Fatmawati, saya segera mengetik berita cepat di telepon genggam. Baterai menipis, sementara saya masih hutang berita yang diliput pada sore hari itu. Setelah terpaksa menolak ajakan kawan-kawan media lain untuk makan malam bersama, saya bergegas menuju 7 Eleven terdekat. Dengan memanfaatkan koneksi internet, saya mengetik dan mengirim berita melalui laptop. Sambil mengetik, saya berkirim pesan singkat dengan redaktur piket pada malam Senin itu. Setelah tugas saya selesai sekitar pukul 11 malam, sayamenikmati minuman sambil mengistirahatkan otot-otot yang tegang. Tiba-tiba sebuah pesan dari redaktur datang. Sempat saya melengos dalam hati, "apa lagi ini, bukannya berita sudah saya kirim dan katanya OK?". Maklum, hari itu cukup melelahkan. Setelah liputan sore hari di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, saya harus mengejar berita ke kawasan Jakarta Selatan. Ternyata pesan singkat itu berbunyi,

Terima kasih ya, Retti jurnalis :)

Begitulah redaktur saya. Ketika saya pamit pada rapat mingguan, dia mengatakan kepada saya, "Retti, saat menjadi guru kamu hanya mengajar dan memberi informasi pada 30 sampai paling banyak 40 orang murid dalam satu kelas. Sementara jika kamu menjadi jurnalis, kamu dapat memberi informasi pada sekian juta pembacamu."

Pendapatnya tidak salah, tapi saya tidak harus setuju dengan hal itu bukan? :p
Setelah dinyatakan diterima sebagai calon PM 4, saya makin sering membaca blog para PM. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa mereka bukan hanya mengajar, namun juga membawa perubahan pada daerah penempatan mereka. Dampak kehadiran PM di daerah-daerah tersebut cukup positif, saya rasa. Sesuai dengan pernyataan Anies Baswedan, pendiri Gerakan Indonesia Mengajar, bahwa mendidik adalah tanggung jawab orang terdidik. Bukan guru atau dosen saja (:

Tiga bulan menjadi calon reporter Tempo desk kriminal dan perkotaan, (makin) membuka wawasan saya tentang kerasnya ibukota. (Makin) membuka mata saya begitu banyak PR yang harus diselesaikan di ibukota, bersama, oleh pemerintah dan penduduknya. (Makin) membuka mata saya tentang daerah abu-abu hasil kesepakatan bersama. Tanpa ditempatkan di desk kriminal dan perkotaan, mungkin saya tidak akan pernah bersentuhan dengan bandar narkoba, penadah barang curian, ketua RT RW, lurah, camat, gubernur, kapolres, kanit reskrim, intel, penduduk tanah merah, penduduk bantaran sungai, dan sebagainya. Masih banyak cerita yang ingin saya bagikan, mungkin pada laman baru. Terima kasih Tempo, meski hanya tiga bulan saya mencicipi bekerja di dalammu, telah banyak yang saya peroleh. Termasuk kesejatian diri. Sekarang saya pulang, ke tempat anak-anakku berada, bumi uncak Kapuas. Sampai bertemu lagi, ibukota (:

saat saya mem-publish post ini, saya sedang bermalam di rumah Kepala UPT Kecamatan Silat Hilir. Kebetulan di sini sinyal internet "agak lumayan" :p

Monday, January 23, 2012

Homesick

Selasa, 17 Januari 2012
Terjebak di tengah kemacetan ibukota yang menyesakkan rongga dada
Dari tulang belikat sampai mata kaki bersyukur tak di luar hisap asap pekat
Namun duduk menjadi saksi padatnya kendaraan kiri kanan depan belakang juga tak bikin senang
Ruang batin hingga kepala diracuni lelah karena kewajiban yang bukan kehendak
Hening dipecah tanyanya kepada saya, dirinya, segenap warga Jakarta
"Orang kok bisa ya kerja dua puluh tahun kayak gini"
"Ya kamu tanyalah sama diri kamu sendiri, mau gak. Aku sih gak mau"
Ternyata capai dan anjingnya jalanan hari itu bikin tak peka juga bikin sensitif
Lalu air mata kami jatuh
Sebenar-benarnya, sesungguh-sungguhnya
Semudah itu menangis karena miris
Atau malah karena, justru karena itu?


Beberapa minggu kemudian
Bertemu seorang sahabat, salah satu alternatif bernapas di sela kesibukan yang bangsat
Bicara ngalor-ngidul hingga tukar cerita tentang hari itu
Sama-sama menengok ke belakang, pengalaman pribadi masing-masing
Di angkutan umum berdesakan dan macet, bikin pusing
Tapi kami belum berumah tangga, masih punya orang tua, pulang ada sembarang
Di kepala langsung para bapak dan ibu pekerja yang terbayang
Berangkat macet pulang macet, kerja bisa saja karena terpaksa, anak sudah dua
Ternyata banyak yang tahan
Atau malah, banting setir dari manusia jadi robot karena tak tahan?
Dari bibirnya terucap sebuah kesimpulan,
"Semua orang Jakarta itu gila. Kita semua gila"

Alice: But I don't want to go among mad people.
The Cat: Oh, you can't help that. We're all mad here. I'm mad. You're mad.
Alice: How do you know I'm mad?
The Cat: You must be. Or you wouldn't have come here.

Mari kabur, pergi jauh
Sebelum luntur, jiwa luruh
Sumpek itu, bukan rumah
Mari pulang, bahagialah.

Monday, January 2, 2012

Lalu Apa?

Tujuh hari telah berlalu dari malam tahun baru,
yang kabarnya adalah tahun kiamat.
Untungnya, atau sayangnya, waktu tetap melaju
dan napas kadang masih terhela berat.
Bersyukur karena keluarga lengkap, partner hebat, tempat berteduh nyaman, dan aman dari istilah pengangguran.
Melamun ke belakang,
mimpi sendiri seakan menyerang.
"Kalau SMA harus masuk jurusan Bahasa"
"Kalau kuliah harus masuk jurusan Jurnalistik"
"Waktu semester dua berkata: mungkin lebih cocok di media seperti Tempo daripada Kompas"
Kalau yang dulu kalau sudah menjadi telah, lalu apa?
Ketika pada masa lampau bahkan seorang Lennon yang ingin jadi jurnalis menjelma musisi?
Melamun ke belakang,
mimpi ke-tiga kini buat berang,
karena sudah dibuang,
tapi masih dicoba karena tertantang,
dan malah jadi bumerang.
Logika bilang, merumuskan yang masih mau dinoktahkan itu hak istimewa manusia.
Walau si (mungkin) bijak suka berkata, keabsahan rumus masih ditentukan sang pencipta.
Bahagia?

8 Januari 2012
Galeri Foto Jurnalistik Antara